Citaman, Situs Pemandiaan 2500 Tahun Lalu
ARKADIGITAL.ID | Banten Kita - Banten selama ini selalu dikenal dengan kawasan wisata pantai, karena hampir sepanjang wilayah Banten di bagian selatannya akan ditemui pantai yang menghadap ke lautan luas. Namun di Banten juga kita akan temui beberapa tempat wisata pemandian yang merupakan situs peninggalan 2500 tahun yang lalu.
Salah satu situ pemandian yang bisa dirasakan adalah situs pemandian Citaman yang berlokasi di Kecamatan Jiput, Pandeglang. Banten. Situs Citaman memiliki beberapa kolam di dalamnya, diantaranya adalah Kolam Cipanggitikan, Kolam Cikajayaan, Kolam Cikaapeusan, Kolam Cipanggantenan, Kolam Cikapaliasan, Kolam Cikaputrian, Kolam Cikahuripan, Kolam Cikembangan, Kolam Citaman.
Kolam-kolam yang ada di Citaman ini cocok untuk menjajal daya tahan tubuh saat berendam terhadap air dingin, Anda bisa mengunjungi kolam pemandian Citaman yang terletak di Kecamatan Jiput, menjadi wisata andalan di kaki Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Pemandiaan Citaman yang alami itu dikenal masyarakat setempat dengan kolam pemandian air es atau pemandian dengan air yang sangat dingin.
Menurut laman kementerian pendidikan dan kebudayaan keberadaan kolam-kolam yang berjumlah 9 kolam ini di duga merupakan tempat pemandiaan sebelum dilakukan peribadatan. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan situs batu goong (batu dengan bentuk hampir menyerupai alat musik goong). Berikut penjelasan tentang situs Citaman yang dilansir dari laman kemendikbud tentang Situs Citaman.
Situs Citaman
Terletak sekitar 500 m arah barat daya dari Situs Batu Goong terdapat kumpulan kolam yang dikenal sebagai Situs Citaman. situs ini merupakan mata air dan kolam dengan berbagai ukuran dan bentuk. Keberadaan kolam-kolam tersebut di duga sebagai tempat awal mensucikan diri sebelum ritual keagamaan berlangsung diatas bukit tempat Batu Goong berada. Hal tersebut di buktikan dengan ditemukan beberapa artefak yang terbuat dari bahan batu misalnya batu bergores (batu asah), batu berlubang, batu pipisan, batu dakon, batu datar, baik di sekitar kolam, ataupun di dalam air. Temuan temuan tersebut sekarang tersimpan di rumah informasi Situs Citaman, selain rumah informasi disekeliling kolam juga berdiri beberapa bangunan semi permanen untuk menunjang kebutuhan para pengunjung. Berdasarkan penuturan masyarakat setempat di kompleks ini sebenernya terdapat Sembilan kolam yang memiliki nama berbeda, yaitu:
1. Kolam Cipanggitikan
Kolam Cipanggitikan terletak di sebelah barat kaki bukit
Kaduguling., kondisi kolam sudah ditutup dengan konstruksi beton. Adapun untuk
luas kolam sendiri tidak bisa dilakukan pengukuran mengingat semua permukaan
kolam tertutup coran beton. Bentuk konstruksi kolam persegi empat dengan ukuran
4 meter x 5.86 meter. Tinggi debit air kolam yaitu setinggi 80 cm, pengukuran
dilakukan dengan cara memasukan meteran kedalam kolam sampai permukaan atas
air. Bedasarkan wawancara dengan masyarakat sekitar lahan kolam ini dimiliki
oleh PDAM Kabupaten Pandeglang, dan airnya digunakan sebagai bahan pasokan bagi
PDAM Pandeglang.
2. Kolam Cikajayaan
Kolam Cikajayaan terletak di sebelah barat daya kolam
cipanggitikan, memiliki denah persegi empat dengan ukuran luas 3,8 meter x 3.8
meter, pada tepian kolam dibatasi oleh batuan berukuran kecil. Berdasarkan
penuturan juru pelihara Citaman, air Kolam Cikajayaan (air kejayaan) dipercaya
bisa membawa keberhasilan bagi orang yang mandi dikolam tersebut. Walaupun
berukuran kecil, kolam ini memiliki air yang jernih dengan debit ketinggian air
53 cm. Susana di kolam ini sangat teduh mengingat disekililingnya ditumbuhi
tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).
3. Kolam Cikaapeusan
Kolam Cikaapeusan (dalam bahasa Indonesia berarti air
kesialan) terletak sekitar 10 meter dari kolam Cikajayaan. Kolam ini dipercaya
untuk membuang sial bagi siapapun yang mandi dikolam ini, sekarang keadaan
kolam sudah tertutup coran beton sama dengan kolam Cipanggitikan. Bentuk
konstruksi beton persegi empat dengan ukuran 4.80 meter x 5.30 meter dan tinggi
coran 70 cm. Tinggi debit air kolam yaitu setinggi 44 cm.
4. Kolam Cikapangantenan
Kolam Cikapangantenan (dalam bahasa Indonesia berarti air
pernikahan), Cipangantenan posisinya berada di pinggir
jalan menuju situs Batu Goong, berjarak sekitar 8 meter dari kolam Cikaapeusan,
berada di sebelah baratnya. Kolam ini memiliki denah seperti huruf L, dengan
ukuran luas 3,54 meter x 2,90 meter adapun debit ketinggian airnya 44 cm.
Ukuran kolam ini tergolong sangat kecil dan hanya dibatasi oleh batu andesit
disekelilingnya, walaupun begitu kolam ini memiliki mata air sendiri sehingga
airnya sangat jernih. Sumber mata air dari Cikapangentenan ini mengalir
langsung ke kolam yang lebih besar (Citaman).
5. Kolam Cikapaliasan
Kolam Cikapaliasan, Cikapaliasan berasal dari suku kata palias, yang dalam kamus bahasa
sunda berarti semoga terhindar dari hal hal yang tidak baik. Kolam ini
posisinya di sebalah barat daya dari kolam Cikapangantenan dengan jarak sekitar
6 meter. Kolam memiliki denah seperti trapesium, dengan ukuran luas 34,55 m².
Menurut penuturan juru pelihara Situs Citaman kolam ini dulunya
berukuran kecil, kemudian oleh masyarakat di perlebar sampai ukuran yang
sekarang. Ketinggian debit air di kolam ini 22 cm, dimana airnya dialirkan
langsung ke kolam Citaman yang posisinya berhimpitan.
6. Kolam Cikaputrian
Kolam Cikaputrian merupakan kolam yang paling kecil diantara
kolam-kolam lainnya yang terdapat di Kawasan Citaman. Ukuran luas kolam ini
hnaya berukuran 2 meter x 2.4 meter atau berukuran 4,8 m². Posisinya di sebalah
timur laut dari kolam Cikapaliasan dengan jarak sekitar 7 meter. Ketinggian
debit air di kolam ini 30 cm, dengan kondisi air sangat jernih.
7. Kolam Cikahuripan
Kolam Cikahuripan (dalam bahasa Indonesia berarti air
kehidupan), posisinya berada di sebelah kiri jalan setapak dekat dengan gerbang
masuk menuju Situs Citaman. Sebagai pembatasnya, kolam dikelilingi oleh batuan
andesit berukuran kecil, dengan ukuran luas 14,29 m². Kondisi air terlihat
sangat jernih sehingga kita bisa melihat langsung dasar kolam, adapun
ketinggian debit air 60 cm.
8. Kolam Cikembangan
Kolam Cikembangan (air kembang) memiliki ukuran kecil,
ukurannya 2 meter x 4,35 meter atau 8,7 m². Posisinya berjarak 4 meter sebelah
barat daya kolam Cikahuripan dan berdempetan langsung dengan kolam Citaman.
Kolam ini berada dalam satu pagar yang sama dengan Kolam Citaman. Pagar
keliling terbuat dari brc setinggi 90 cm. Berbeda dengan kolam-kolam lainnya, dasar
kolam di Cikembangan dipenuhi oleh lumut hijau, dengan tinggi debit air 28 cm.
9. Kolam Citaman
Kolam Citaman terletak pada koordinat 06⁰20’24.5’’ LS –
105⁰55’09.8’’ BT pada ketinggian 175 mdpl. Kolam ini memiliki ukuran luas
keseluruhan 941,58 m² dan merupakan kolam yang memiliki ukuran paling luas
diantara delapan kolam lainnya yang terdapat di kompleks ini. Bentuk denah
kolam Citaman persegi enam, disetiap sisinya terdapat batuan kecil yang
berfungsi sebagai pembatas kolam dan disekelilingnya sudah dipagari brc
setinggi 90 cm. Kolam Citaman terbagi menjadi dua bagian dan dipisahklan oleh batuan
andesit berukuran kecil sebagai penyekatnya yang difungsikan juga sebagai jalan
akses pengunjung. Menurut penuturan masyarakat setempat satu bagian digunakan
untuk kaum laki-laki dan satu bagian lagi untuk kaum perempuan, namun pada saat
ini kedua bagian tersebut digunakan baik oleh laki laki maupun perempuan. Pintu
akses menuju Kolam Citaman dapat dilalui dari dua arah, yaitu pintu masuk dari
sebelah barat dan timur.
Selain memiliki mata air sendiri, kolam Citaman juga
memiliki sumber mata air yang berasal dari beberapa sumber mata air diatasnya.
Kondisi air sangat jernih, secara visibilitas kita bisa melihat dengan jelas
sampai ke dasar kolam. Ketinggian debit air dikolam ini berbeda-beda, kolam
sebelah selatan memiliki tinggi 64-70 cm sedangkan kolam sisi selatan memiliki
ketinggian debit air yang cukup dalam yaitu sekitar 70-100 cm. Air dari kolam
Citaman dialirkan ke kolam disekelilingnya, yang kemudian mengalir langsung ke
sungai Cigetir.
Situs Batu Goong
Situs Batu Goong secara administratif terletak di Kampung Cigadung, Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten berada pada kordinat 06o20’17,2” LS dan 105o55’18,9” BT dengan ketinggian 215 mdpl. Untuk menuju lokasi situs tidaklah sulit, mengingat lokasinya berdekatan dengan pusat pariwisata Pantai Carita dan Labuan atau berjarak ± 30 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Pandeglang. Dari jalan darat, kita bisa menggunakan kendaraan baik roda empat maupun roda dua. Karena letaknya berada jauh dari jalan raya, dan kendaraan umum yang masih terbatas (jarang) maka disarankan lebih baik menggunakan kendaraan pribadi.
Dinamakan Situs Batu Goong, karena beberapa artefak batu
yang ada di kompleks ini memiliki bentuk seperti gamelan/kenong (dalam bahasa
sunda Goong), sehingga masyarakat lebih mengenal dan menyebutnya sebagai Batu
Goong. Situs ini menempati suatu kawasan perbukitan yang disebut Kaduguling, di
bukit ini banyak tumbuh vegetasi tanaman hutan hujan tropis di antaranya,
melinjo (gnetum gnemon), jati ambon (Tectonia grandis), waru (Hibiscus
teliaceus), mangga (Mangifera indica), bambu (Bambusa vulgaris), tanaman
perkebunan masyarakat seperti singkong (Manihot utilissima), kelapa (Cocos
nusifera), dan padi (Oriza). Selain vegetasi tanaman hujan tropis di
kawasan situs tumbuh juga tanaman rempah seperti kecombrang/honje (Etlingera
elatior), jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa), kencur (Kaempferia
galangal), dan beberapa tanaman rempah lainnya. Ragam vegetasi tersebut
merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,
baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun untuk keperluan
sekunder.
Keberadaan situs Batu Goong mulai diteliti pada tahun 1995 oleh Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala, Serang (sekarang BPCB Banten), dengan melakukan kegiatan ekskavasi penyelamatan yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan pendataan dan pemetaan lokasi situs pada tahun 1996. Dari hasil kedua kegiatan tersebut disimpulkan bahwa tampak situs Batu Goong adalah punden berundak yang merekayasa bentukan alam. Kemudian baru pada tahun 1997 Balai Arkeologi Bandung melaksanakan kegiatan penelitian dan berlanjut pada tahun 2002 sampai 2009 yang menyimpulkan bahwa peninggalan arkeologis tersebut berasal dari budaya tradisi megalitik, dan merupakan salah satu corak budaya prasejarah yang berkembang menembus kurun waktu sejarah. Kemudian untuk melengkapi data peta dan gambar Kantor BPCB Banten pada tahun 2018 melaksanakan kegiatan pemetaan dan penggambaran di kawasan Situs Batu Goong termasuk Situs Citaman.
Mengacu kepada Djaenuderadjat (2001), menyebut situs Batu Goong sebagai punden berundak yang memanfaatkan beda tinggi permukaan tanah. Punden dibentuk berdasarkan garis kontur bukit Kaduguling yang bertingkat, kemudian beberapa bagian dilakukan pemangkasan sehingga menampakan punden bertingkat dari paling rendah di sisi barat dan makin tinggi di timur Djaenuderadjat (2001). Hasil kegiatan pemetaan yang dilakukan oleh BPCB Banten pada tahun 2018 ikut memperkuat dugaan tersebut, dimana bukit Kaduguling memiliki garis kontur yang berundak. Garis-garis kontur tersebut terlihat dari posisi Citaman ke arah timur laut semakin meninggi membentuk miniatur gunung. Dari hasil pemetaan juga tampak adanya semacam teras-teras yang dibatasi oleh fitur batu dan parit. Batas parit atau batas yang terbuat dari fitur batu sekarang keadaanya sudah tidak bisa dikenali secara jelas mengingat kawasan adalah areal perkebunan aktif yang dikelola oleh masyarakat. Secara keseluruhan areal bukit Kaduguling memiliki luas 2,8 ha.
Di kompleks Batu Goong terdapat beberapa artefak,
diantaranya terdapat dua belas (12) batu yang mengelompok dalam sebuah cungkup
berukuran 5,3 meter x 5,3 meter. yaitu, terdiri dari satu (1) menhir berdiri di
bagian tengah dikelilingi oleh sepuluh (10) batu silinder (palinggih) dengan
bidang atasnya rata. Satu (1) artefak berbentuk gong kecil (kenong). Menhir
yang berdiri di tengah-tengah nampaknya berfungsi sebagai pusat sedangkan batu
batu yang lainnya ditempatkan mengelilingi pusat tersebut, formasi semacam ini
lazim disebut formasi “temu gelang” yang banyak djumpai pada masa tradisi
megalitik. Selain 12 batu terdapat satu artefak batu yang terletak diluar
cungkup namun masih terpendam. Batu-batu tersebut dilindungi oleh pagar
keliling berbahan BRC berukuran 11,12 meter x 11, 12 meter dengan tinggi 120
cm. Ukuran batu silinder memiliki diameter relatif sama, yaitu 50 sampai 52 cm,
sedangkan tinggi memiliki ukuran yang bervariasi.
Di luar kompleks Batu Goong yang telah diberi pagar keliling, terutama di sebelah barat daya terdapat dua batu yang memiliki bentuk dan ukuran berbeda. Satu batu berjarak sekitar 15 meter dari kompleks situs Batu Goong. Batu ini memiliki bentuk kenong (goong) sebagian badan batu tersebut tertanam di dalam tanah dan satu batu lagi memiliki bentuk silinder (pelinggih). Jadi secara keseluruhan terdapat lima belas batu yang terdapat di Komples Batu Goong ini. Selain fitur batu, di kawasan Bukit Kaduguling ini juga ditemukan beberapa fragmen keramik asing dari masa Dinasti Song, Dinasti Ming, dan dari Thailand serta kaki arca yang di yakini berasal dari masa klasik.
Berusia 2.500 tahun
Wisata mata air Citaman ini ternyata merupakan
salah satu situs purbakala yang berumur lebih dari 2.500 tahun. Kolam mata air
ini sudah ada sejak zaman sebelum masehi, kalian bisa bayangkan betapa tuanya
wisata mata air ini. Tetapi kualitas air di kolam ini masih terjaga
kemurniannya sampai saat ini, bahkan banyak yang bilang bahwa mata air Citaman
memiliki air yang sedingin es. Anda bisa tahan dengan hawa dingin? Cobalah
untuk berkunjung. Jika tak tahan berlama-lama di dalam air, warung-warung bambu
di sekitar kolam bisa menjadi tempat untuk menghangatkan diri dengan segelas
kopi. Tunggul apalagi, nikmati sensasi dinginnya air Citaman.
Akses Menuju Lokasi Citaman
Terletak di kaki Gunung Pulosari,
Pemandian Citaman bukan tempat wisata yang terlalu sesak pengunjung. Tempat
wisata lokal ini cocok untuk menenangkan diri dari rutinitas perkotaan. Untuk
mencapai pemandian yang berada di tengah-tengah persawahan dan harus melewati
aliran sungai-sungai ini, pengunjung bisa mengakses Jalan Raya
Pandeglang-Labuan.
Namun, bila Anda dari arah Pandeglang kota,
maka Anda bisa mengakses Jalan Mandalawangi hingga tembus ke Kecamatan Jiput.
Dari sana, Anda tidak tidak perlu khawatir. Ketika sudah memasuki Jiput,
petunjuk warga lokal bisa mengantarkan Anda ke lokasi. Sementara, jika dari
arah Labuan, Pantai Carita, atau Anyer Serang, ada jalan memotong menuju
Kecamatan Jiput dari arah pantai. Dan akses terakhir untuk menuju Citaman yaitu
dari Menes. Dari Menes, Anda harus menuju arah Pasar Jiput terlebih dahulu
sebelum menuju kawasan Citaman.
Berikut adalah Foto-Foto Koleksi Banten Kita dan foto-foto dari Internet.
DAFTAR PUSTAKA:
Djaenuderadjat, dkk. 2001. Catatan Jejak Peninggalan
Purbakala Sebelum Islam di Daerah Banten. Dalam Mundardjito dkk. Ragam
Pusaka Budaya Banten. Serang: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Banten
Haerudin, dkk. 1995. Laporan Ekskavasi Penyelamatan Situs
Batu Goong Kabupaten Pandeglang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Suaka
Peninggalan Sejarah dan Purbakala.
Mason, Randall. (2008). Assesing Values in Conservation Planning,
Methodological Issues and Choices. Artikel dalam Fairclough, G.,R.
Harrison, J.H. Jameson, and J. Schofield (Ed). The Heritage Reader (pp.99-124).
London: Routledge.
Mundardjito. 1993. Pertimbangan Ekologi Dalam
Penempatan Situs-situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian
Arkeologi Ruang Skala Makro. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia
Sutikno, dkk. 1996. Laporan Hasil Pemetaan dan Penggambaran
di Situs Citaman, Kec. Menes Kab. Pandeglang, Jawa Barat. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala
Sudarti.2013. Situs Batu Goong di Desa Sukasari,
Pandeglang:Kajian Aspek Arkeologis. Dalam Jurnal Purbawidya. Bandung: Balai
Arkeologi Bandung.
https://dispar.bantenprov.go.id/Destinasi/topic/118
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/situs-batu-goong/






